“Ibu…”

Pada Senin, 28 September 2015, Ibunda saya tercinta, Hj. Siti Romlah Adnan, meninggal dunia di RS Pondok Indah-Puri Indah, di usia 69 tahun. Beliau menghadap Penciptanya di bulan kelahiran saya, ketika saya baru beberapa hari menginjak usia 4o tahun.

Bukan kebetulan saya merasa hubungan Ibu dan saya tergambar dalam Al Qur’an surat Al-Ahqaf, khususnya ayat 15. Ayat tersebut menceritakan perjuangan seorang Ibu yang susah payah mengandung dan melahirkan anaknya, menyusui selama 30 bulan, dan mendidik anaknya hingga dewasa, bahkan hingga umur si anak 40 tahun. Sampai beberapa jam sebelum almarhumah menghembuskan nafas terakhir, saya masih mengecap didikan Ibu, termasuk dan terutama tentang Tauhid.

Sesuai Al-Ahqaf 15, ada doa yang harus saya amalkan sebagai anak yang di usia 40 tahun. Intinya adalah mohon petunjuk agar bisa mensyukuri segala nikmat, termasuk yang dilimpahkan pada kedua orang tua. Juga mohon petunjuk agar mampu berbuat kebaikan, sekaligus diberi kebaikan yang akan mengalir hingga ke anak cucu. Saya pun berusaha rutin membaca doa itu setiap usai sholat.

Untuk mengenang Ibu, pada peringatan 40 hari almarhumah, kami anak-anaknya sengaja membagikan buku 30 Kisah Teladan, karya almarhum Bapak saya, K.H. Abdurrahman Arroisi. Buku tersebut kami bagikan bersama flyer berisikan cuplikan kisah pertunangan Ibu dengan Bapak yang saya ambil dari salah satu cerita di buku 30 Kisah Teladan seri ke-11. Sebagai bentuk penghormatan kepada beliau berdua, saya share cuplikan kisah itu di sini.

Pengakuan*

Waktu para kiai di kampung saya mendengar kabar bahwa saya akan menikah dengan seorang ustazah, mereka mengucap syukur kepada Allah. Sebab ada harapan saya bakal menjadi orang baik-baik. Maklum, di kota saya, Arman Haro dikenal bengal dan urakan meskipun cukup lama melahap nasi liwet di tiga pesantren.

Memang tidak berlebihan. Ketika melamar calon istri saya itu pun saya lakukan dengan gaya koboi. Bercelana tambal-tambalan dengan rambut gondrong hampir sepundak, saya masuk ke rumah Kiai Hasyim Adnan yang kala itu masih bujangan dan sedang duduk di ruang depan berdua dengan adiknya, Romlah Adnan.

Langsung saja saya berkata, “Mas Hasyim, saya ingin menjadi suami Romlah.”

Kontan Kiai Hasyim berubah mukanya, tidak bisa mengeluarkan suara. Dan Romlah Adnan pucat pasi wajahnya. Sesudah membisu beberapa saat, Kiai Hasyim bertanya kepada adiknya, “Rom, bagaimana pendapatmu?”

Untunglah Romlah Adnan hanya menunduk sambil memain-mainkan ujung taplak meja sehingga disangka menerima lamaran saya. Maka tanpa banyak cingcong lagi, akhirnya saya dinikahkan beberapa pekan kemudian.

Ibu Bapak_Fotor

Celakanya, siapa pun yang berpredikat mubalighat di kampung saya biasanya dipanggil Nyai. Akibatnya, gegerlah seluruh pelosok, terutama gadis-gadis yang pernah jatuh hati kepada saya. Sebab tersebar berita bahwa saya akan kawin dengan seorang Nyai, yang bisa juga diartikan nenek-nenek.

“Sudah sinting barangkali,” gerutu mereka. “Kita yang perawan tingting saja mau, kok malah yang dipilih nenek-nenek.”

Barulah mereka sadar telah salah duga karena ternyata istri saya masih cukup muda dan lumayan cantiknya. Hanya yang jadi masalah, bagaimana keluarga saya memanggilnya. Sebab tadinya mereka sambil menunduk-nunduk menyapa istri saya sebelum menjadi menantu dengan gelar Bu Nyai. Terjadilah kemudian beberapa keganjilan. Seperti sikap uwak saya, Haji Fatmah. Tiap bertemu dengan kami, atau ketika kami bertandang ke rumahnya, ia memanggil saya “Man” saja, tetapi memanggil istri saya dengan “Bu Nyai” sambil mencium tangannya.

Tetapi, memang berat menjadi suami mubalighat. Karena istri saya pandai pidato dan sangat menarik isi serta gaya ceramahnya, masyarakat yang mengundangnya menyangka, saya pasti lebih lihai dan lebih ahli lagi. Padahal saya baru hafal beberapa ayat pendek dan dua tiga hadis. Terpaksa saya ngebut belajar selama dua tahun. Maklum, sebelumnya saya lebih aktif di dunia pentas dan seni ketimbang di lingkungan agama.

Pernah, pertama kali muncul saya diberi kepercayaan menggantikan Kiai Hasyim Adnan untuk menjadi khatib di Biro Pusat Statistik, Jakarta. Alhamdulillah, meskipun agak gemetar, saya bisa membaca khotbah Jumat dengan memukau, memakai gaya panggung teater. Namun malangnya, saya diminta mengimami salat Jumat. Padahal saya belum pernah menjadi imam, sedangkan biasanya, datang ke masjid belakangan, pulangnya duluan. Jadi, sesudah selesai salam, saya bingung mesti membaca apa lagi. Saking tidak tahunya, saya langsung berdiri lalu ngeloyor pergi sehingga sejak saat itu saya tidak diundang-undang lagi sampai sekarang.

Demikian pula pada waktu ada acara maulid Nabi saw. di masjid Al-Fudhala, Tanjung Priuk. Saya diminta menemani istri yang malam itu bertindak selaku penceramah tunggal. Sesudah ia turun dari podium, tanpa meminta izin atau memberi tahu, panitia mempersilakan saya naik mimbar untuk berceramah. Masya Allah, jangan hendaknya kejadian seperti itu terulang kembali. Sebab di mimbar saya tidak menerangkan soal-soal keagamaan, malahan bercerita tentang pengalaman saya selama menjadi mahasiswa ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia), Jakarta. Buntutnya sama. Walaupun sekarang mutu ceramah saya sudah meningkat, mereka belum berani ambil risiko untuk menampilkan saya di sana sebagai mubaligh.

Untuk itu, dalam usaha menghilangkan kesan buruk di masa-masa lalu, saya mengganti nama khusus kalau berfungsi sebagai ustaz, dengan Abdurrahman Arroisi. Sesudah naik haji pertama pada 1975 saya pun memakai embel-embel haji. Dan oleh CV Rosda yang menerbitkan buku-buku saya, gelar kiai dibubuhkan di depan nama saya. Barangkali diharapkan, dengan sebutan Kiai Haji Abdurrahman Arroisi, kesannya di tengah masyarakat bakal makin berbobot.

Tapi, rupanya kok panggilan seni masih tetap menggebu-gebu. Meskipun beberapa kali saya menolak tawaran main film dari bekas teman-teman yang kini sudah jadi sutradara, akhirnya saya takluk kepada Toro Margens, mantan anak buah saya dulu dalam grup teater Codastra dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama cabang Pemalang. Dia menyutradarai film dan meminta saya ikut memegang peran pembantu. Saya baca skenarionya, lalu saya pilih peran sebagai reserse, dengan imbalan janji sang sutradara untuk menyisipkan pesan-pesan dakwah di dalamnya. Adapun bagaimana hasilnya, saya tidak tahu persis. Yang jelas, saya selalu memegangi hadis Nabi saw.:

“Barang siapa memelopori kebaikan, maka ia akan memperoleh pahala dari mereka yang mengamalkan kebaikan itu, tidak kurang sedikit pun. Dan barang siapa menunjuki kejelekan, maka baginya dosa dari orang yang mengerjakan kejelekan itu, tidak kurang sedikit pun.”

* Disadur & disunting dari K.H. Abdurrahman Arroisi, “30 Kisah Teladan 11,” (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2001), hal. 175-180.

Advertisements
This entry was posted in Islam, Sosial, Sosial Budaya and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s