“Bapak…”

wpid-img02012-20130812-0940.jpg

Oleh Binziad Kadafi

Hari-hari belakangan ini saya rindu pada almarhum Bapak. Apalagi setelah melewati 27 Maret 2015 kemarin, tepat 18 tahun sejak almarhum wafat. Yasin dan tahlil tidak mampu menghapus rindu saya. Jadi teringat sebuah biografi singkat yang pernah saya tulis dan dimuat dalam buku kecil “Biarkan Saya di Langit, Refleksi Pemikiran K.H. Abdurrahman Arroisi”. Tulisan itu saya buat atas permintaan pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa di Jakarta Pusat, yang pada 29 April 1997 menyelenggarakan peringatan 40 hari wafatnya almarhum. Dalam peringatan tersebut berbagai karya almarhum juga diulas lewat sebuah diskusi.

Saya masih mahasiswa di FHUI kala itu. Biografi tersebut mungkin tidak akurat dan subyektif dalam menggambarkan perjalanan hidup almarhum. Hanya bermodalkan data sekunder dan wawancara ke pihak-pihak terbatas, dan ditulis sendiri oleh anaknya yang masih merasa kehilangan. Tetapi mudah-mudahan, biografi singkat tersebut, dan keputusan saya membaginya lewat blog ini, selain menjadi cara saya memuliakan almarhum, juga menjadi obat rindu pada sosok almarhum.

Biografi Singkat K.H. Abdurrahman Arroisi

“Seandainya aku boleh memilih | biarlah aku menjadi bintang atau bulan yang tidak angkuh ketika bertahta | dan tidak mengeluh ketika terbenam | Biarlah aku menjadi sang fajar | yang gigih mengusir kelam | namun rela menyingkir untuk memberi tempat bagi sang surya yang lebih cemerlang”

Lahir di kota kecil Pemalang Jawa Tengah pada 13 Desember 1944 dengan nama Abdurrahman dari pasangan H. Rois dan Hj. Munihah, K.H. Abdurrahman Arroisi –yang sering dikenal sebagai Arman Arroisi– menghabiskan masa kanak-kanaknya dalam latar belakang keluarga agamis. Ayahnya seorang pengusaha batik yang sukses kala itu, selain juga dikenal sebagai pemain sepakbola ulung. Sedang ibunya hanya wanita desa sederhana, cara berpikir maupun keseharian.

Lantaran dekat dengan paman dari pihak ibu yang seorang Kiai, Arman Arroisi sengaja diakrabkan pada kehidupan pesantren. Keluarga menyadari bakat seni Arman yang besar –sejak di tingkat SMP ia sudah menulis banyak puisi dan beberapa naskah drama. Langkah memasukkan Arman ke pesantren bukan malah menghalangi pengembangan bakatnya, namun justru mempertebal kandungan kritik sosial di setiap karya seninya. Menurut Arman, “Didikan pesantren yang sangat merakyat membentuk pribadi berpembawaan sederhana dan tanggap pada fenomena sosial yang ada.” Tambahnya, “Yang jelas, melalui pesantren, saya telah menjadi saya. Bagaimanapun bentuk serta kedudukan saya hari ini, apapun yang telah saya capai saat ini, saya merasa bersyukur telah menjadi saya.”

Tidak sedikit kitab kuning yang ia lahap sejak masuk Pesantren Buntet Cirebon, di bawah bimbingan almaghfurlah K.H. Busyrol Karim, dan Pesantren Al Munawir Krapyak Yogyakarta, langsung dibina almaghfurlah K.H. Ali Maksum. “Beliau berdua adalah figur yang sangat berpengaruh dalam hidup saya. Kesederhanaannya, di samping jasanya yang tidak kecil bagi umat, patut saya tiru.” Demikian kenang Abdurrahman Arroisi tentang kedua gurunya itu suatu kali.

Terbukti memang cerita-cerita yang ia bawakan dalam setiap ceramah maupun tulisannya, sering diambil atau dikembangkan dari cuplikan kisah dalam kitab-kitab kuning, ajaran para kiai. Kesederhanaan juga diterapkannya dalam sikap hidup asketik, sesuai sikap hidup para sufi yang ia dalami lewat tasawuf.

Kematangan agamanya semakin bertambah setelah ia duduk di Fakultas Syariah IAIN Surabaya pada 1963, dan pindah ke Fakultas Tarbiyah IAIN Malang pada 1964. Dari situ wawasan sosialnya pun terdongkrak melalui berbagai aktivitas kampus yang ia terjuni. Arman Arroisi pernah terlibat dalam kepengurusan PMII, HMI, HSBI (Himpunan Seniman dan Budayawan Islam), dan Lesbumi (Lembaga Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia).

Lewat forum HSBI dan Lesbumi ia sering mementaskan drama sebagai penulis naskah atau selaku sutradara. Naskahnya yang berjudul “Merah itu Darah” dan “Menghitung Dendam” adalah unggulan lakon pentas para seniman Pemalang. Namun dari sekian banyak naskah drama yang dihasilkan, yang paling menggemparkan adalah lakon “Pesta Darah Rakyat.” Lakon itu mendapat sambutan hangat pada waktu dipentaskan dalam kongres IPNU-IPPNU se-Indonesia. Tercatat Imam Tantowi, sutradara kawakan yang pernah menangani film kolosal “Fatahillah” bersama alm. Chairul Umam, juga acapkali mengangkat lakon-lakon Arman ke atas pentas di Jawa Tengah.

Persentuhan Arman dengan dunia dakwah diawali di Jakarta ketika ia menempuh pendidikan di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), justru pada saat ia larut dalam keseharian seniman yang relatif bebas. Tepatnya ketika istrinya, Siti Romlah Adnan yang dinikahi pada 1969 dan memang seorang da’i wanita, menantangnya untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapatnya dan menyampaikannya lewat media dakwah, bukan cuma berkutat di dunia pentas dan seni. Tantangan itu diperkuat lagi oleh dorongan dari abang iparnya, almaghfurlah K.H. Hasyim Adnan, salah seorang pendiri Dewan Masjid Indonesia Pusat dan Lembaga Dakwah Nahdlatul Lama.

Menggantikan abang iparnya, pertama kali ia berceramah di masjid Al-Fudhola Tanjung Priok. Panitia yang mengundang agaknya bingung mendapati sang penceramah tampak tidak siap. Kesempatan kedua di kantor Biro Pusat Statistik. Setelah didaulat menjadi imam sholat, ia kedapatan canggung dalam memimpin zikir dan doa. Pihak pengundang maupun yang diundang sama-sama kapok. Ia lalu memutuskan untuk setidaknya 2 tahun menekuni kembali ilmu agama, menyegarkan ingatannya pada berbagai ajaran yang pernah diterimanya di pesantren.

Bakat seni dan akting disertai retorika dan artikulasi yang lancar, membuat Arman tidak kesulitan menghanyutkan perasaan pendengar ceramahnya. Tak ada lagi yang kapok mengundang. Malah banyak permintaan ceramah dari berbagai kalangan yang akhirnya tidak dapat ia penuhi seluruhnya. Misinya paling besar di atas mimbar adalah membawa pencerahan dalam keberagamaan melalui cara yang halus, tidak berkesan menggurui. Juga sebagai penganjur damai dan toleransi, sebagaimana pesan Allah dalam sebuah kalimat tepat di tengah-tengah Al Quran yang sering dilontarkannya, “Wal-yatalataf. Dan berlemahlembutlah.” Tak heran jika jajaran direksi sebuah perusahaan asuransi ternama di Jakarta yang kebanyakan berasal dari agama kristiani dan kebetulan direktur utamanya seorang pendeta, setia mengikuti setiap kesempatan ceramah Arman Arroisi di pengajian rutin yang diselenggarakan perkumpulan karyawannya.

Dalam membawakan ceramahnya, sebagaimana mengantar kisah dalam buku-bukunya, Arman selalu jujur dalam menyampaikan nilai-nilai yang diinginkan, namun juga apik dalam mengemasnya. Tak jarang ceramahnya diselipi guyon-guyon yang mengundang gelak tawa. Tak ayal ia juga ungkapkan cerita-cerita yang akan menguras air mata.

30 Kisah Teladan_FotorSebelum pertama kali bukunya diterbitkan, karya K.H. Abdurrahman Arroisi sudah sering muncul di beberapa harian ibu kota menggunakan berbagai nama seperti Arman Arroisi, Arman Haro, Putu Kalyubi, serta beberapa nama pena, termasuk nama wanita, seperti Narcisus Ovalia Hasibuan. Masing-masing nama memiliki maksud dan sasaran sendiri-sendiri. Untuk karyanya yang kental dengan pesan-pesan agama, ia pergunakan nama Abdurrahman Arroisi dan Arman Arroisi. Termasuk untuk serial “30 Kisah Teladan”, 12 seri buku kisah-kisah hikmah dan tasawuf terbitan Remaja Rosda Karya yang sejak 1988 hingga 1997 dicetak ulang sebanyak 14 kali. Nama Arman Haro dipakai bagi karya-karya cerita agak populer. Sedang untuk kumpulan puisinya ia pergunakan nama Putu Kalyubi, diambil dari nama kakeknya, H. Kalyubi, sedangkan “Putu” sendiri berarti “cucu” dalam bahasa Jawa. Cerita silat bersambungnya banyak diminati pembaca harian Suara Pembaruan yang memuat. Juga beberapa noveletnya disukai masyarakat luas, termasuk yang memenangkan Juara II dan juara III sekaligus dari lomba fiksi majalah Femina tahun 1987, bersanding dengan penulis Nadjib Kertapati yang mendapat juara I.

Tulisannya berjudul “Langit Hitam Perempuan” yang dimuat di harian Pelita sebagai cerita bersambung, ternyata juga diikuti oleh kritikus sastra H.B. Jassin. Tokoh pujangga baru itu kemudian menghubunginya, menganjurkan agar karya tersebut diterbitkan sebagai novel, sekaligus berjanji menuliskan kata pengantar.

“Sebagai seorang pengarang yang juga pengarang cerita silat, Arman Haro nampak gayanya yang cerdas dalam melukiskan peristiwa-peristiwa serta tingkah laku dan jalan pikiran tokoh-tokohnya. Sangat menarik lukisan latar belakang beberapa pesantren di pulau Jawa dan pendidikannya. Kalau kita mau membaca di antara kalimat-kalimat, maka kita akan menemukan kecuali kritik-kritik sosial, juga sisipan-sisipan dakwah yang diselipkan dengan tidak mengganggu jalan cerita dan menambah pengetahuan pembaca tentang berbagai masalah ditinjau dari sudut penghayatan agama.” Demikian tulis H.B. Jassin di halaman muka buku “Langit Hitam Perempuan”.

Kerendahan hati Arman ditunjukkan tatkala ia bergurau tentang ke-kiai-annya. “Orang-orang mengira itu singkatan dari Kiai Haji, padahal lebih tepat jika dipanjangkan sebagai Kang Haji.”

Mungkin dengan melontarkan alasan seperti itulah ia jadi lebih leluasa jika kadang harus keluar masuk tempat hiburan malam, mengakrabi penghuninya untuk dijadikan ide tulisan. Atau guna mengajak mereka ke jalan yang benar tanpa membuat mereka merasa didakwahi. Tanpa risih ia ceritakan pengalamannya itu di atas mimbar. “Jika mereka kita jauhi sebagai sekelompok orang tidak bermoral, mereka pun semakin jauh dari Tuhan.”

Lantaran dalih di atas pula, K.H. Abdurrahman Arroisi tidak perlu berpikir dua kali begitu Toro Margens, seorang aktor sekaligus sutradara senior bekas anggota kelompok teaternya di kampung dulu, mengajak ikut andil dalam sebuah film nasional. Kata Arman waktu itu, “Saya pilih peran Kapten Susilo, komandan satuan reserse. Sebab menilik dari script, cuma peran itu yang tidak harus bersentuhan fisik dengan pemain wanita.”

Yang jelas ia tak pernah merasa terikat oleh atribut ke-kiai-annya dalam berkarya dan berdakwah lewat berbagai media yang mungkin ia masuki. Keterlibatan Arman Arroisi dalam dunia perfilman terulang manakala salah satu cerita silatnya dari serial “Anak-Anak Pendekar” berjudul “Ajal Sang Penyebar Maut” diangkat oleh Ratno Timoer ke layar lebar lewat judul “Syekh Siti Kobar Membangkang.”

Cara bertutur yang tidak menghujat, pengamatan berbagai masalah yang dalam, menyampaikan hikmah melalui berbagai kisah teladan, serta kemampuan berekspresi dan mengolah kata, bukan hanya dalam bahasa Indonesia, juga dalam beberapa bahasa asing, menarik simpati semua kalangan untuk terus mengundang K.H. Abdurrahman Arroisi memberikan ceramah di berbagai kesempatan. Mulai dari jamaah umum, akademisi, para eksekutif, bahkan kaum birokrat. Mulai dari forum pengajian, seminar, atau berbagai acara kelembagaan.

Hampir seluruh pelosok nusantara telah dijelajahinya, negara-negara tetangga juga masuk dalam jangkauan dakwahnya. Hingga terakhir, masyarakat muslim Indonesia di Rusia dan Uzbekistan agaknya tidak mau ketinggalan untuk membahas berbagai masalah dari sudut pandang agama bersama Arman.

Malah pemikiran yang dituangkannya pada forum kajian Islam mahasiswa Indonesia di Australia pernah dikritisi Deddy Mulyana, seorang doktor ilmu komunikasi dari Universitas Padjadjaran dalam bukunya, “Menjadi Santri di Luar Negeri, Pengalaman dan Renungan Keagamaan”, terbitan PT Remaja Rosda Karya. Deddy Mulyana mengatakan sebagai berikut, “Ada benang merah yang menghubungkan obrolan Arman Arroisi dengan ceramah Emha Ainun Nadjib sebulan sebelumnya di hadapan kelompok pengajian mahasiswa Islam Indonesia di Monash University di Clayton. Keduanya menggugat pemakaian simbol-simbol Islam oleh kalangan muslim, terutama di dunia politik.”

Arman Arroisi kerap menyayangkan betapa keberagamaan umat Islam di masanya amat memprihatinkan, meski kesemarakan lahiriahnya sering dibangga-banggakan. Menurutnya, banyak kecenderungan yang menganggap ibadah ritual sebagai tujuan akhir, hingga mengerjakan sholat pun sekadar terbebas dari kewajiban dan ancaman Tuhan.

Hemat Arman pada satu sisi, kehidupan beragama yang formalistik memang memperoleh hasil yang setimpal, berupa ketaatan terhadap aturan-aturan syariah. Akan tetapi pada akhirnya kepatuhan itu hanya sering tersisa di masjid dan pada saat sholat atau pada saat ibadah haji. Sementara peningkatan mutu mentalitas atau perilaku umat belum begitu nampak dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

IMG-20150817-WA0041_FotorJabatan Dekan Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Al Aqidah yang pernah diembannya di saat K.H. Abdurrahman Wahid menjabat sebagai Rektor, menggambarkan kiprahnya selaku akademisi. Karir Arman sebagai wartawan mencapai puncak setelah ia menduduki jabatan wakil pemimpin redaksi majalah Amanah, di mana Arman mengasuh sebuah rubrik tetap, “Tasawuf” yang sebagian edisinya pernah diterbitkan oleh Pustaka Kartini. Namun dikarenakan kondisi kesehatan yang tidak mengizinkan, jabatan wakil pemimpin redaksi tersebut hanya dijalaninya selama kurang lebih dua tahun.

Kepedulian sosial diwujudkan Arman melalui pembentukan majlis taklim yang diketuai isterinya, menyantuni ratusan anak asuh dan janda miskin saat itu, bersama masyarakat tentu saja. Prinsip yang selalu ia pegang, dakwah bil-lisan harus diimbangi dengan dakwah bil-haal. Tulisnya dalam buku “Refleksi Ajaran Tuhan” sebagai berikut: “Konon, pejuang tampil untuk membela keadilan, termasuk mubaligh dan seniman. Namun, ketika keadilan menjadi isu, tiba-tiba keadilan berubah isi, sekedar jargon politik, dakwah, bahkan komoditi. Untuk mengundang penceramah yang pandai membahas keadilan, upahnya ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Sementara itu, anak-anak yatim, gelandangan, pelacur murahan, dan kaum lemah hanya terkagum-kagum mendengarkan kaset nyanyian, seminar, atau ceramah tentang nasib mereka. Kisah mereka disambut dengan gemuruh tepuk tangan. Hidup mereka tetap di tempat kumuh ke tempat lebih kumuh.”

Kesetiaan terhadap profesi, sebagai seorang da’i, penulis dan budayawan adalah arti hidup Arman Arroisi. Tiga hari menjelang wafatnya, Arman masih menyempatkan diri berkutat di depan monitor komputer menyelesaikan materi khutbah idul adha yang sekiranya akan ia sampaikan di Al Markaz Al Islami (Islamic Center) Ujung Pandang. Selain itu ia juga masih punya tanggungan sebuah novel yang belum sempat ia beri judul.

Pernah setelah hampir tiga tahun menderita penyakit liver, dini hari 20 Agustus 1996 menjelang pukul 01.00 WIB, saat tubuhnya menggigil menahan demam, Arman meminta pulpen pada istrinya, dan menuliskan seuntai puisi pada dinding triplek sebelah tempat tidurnya,

Untuk Ibu dan Anak-anak, dari Bapak

Tuhan | tidurkan aku malam ini tanpa mimpi | dan seandainya telah tiba penantianku | jangan bangunkan aku pagi-pagi | aku ingin berbaring damai di sisi Mu | tanpa terganggu kenisbian waktu

Tuhan | bebaskan ruhku dari penjara jasmani | sebab nafsu telah menyeretku ke kubangan dosa dan derita | menyakiti hidupku dan seisi rumahku

Tuhan | selamatkan istri dan anak-anakku | dari kutukan Mu terhadap dosa-dosaku | aku ingin mendampingi mereka selamanya | dalam kesucian yang sejati

Jakarta, 10 Agustus 1996

Ketika kurasa ajal semakin dekat | namun permohonan dan keinginan dapat berumur lebih panjang kian meningkat

Tidak sampai 1 tahun kemudian, tepatnya pada 27 Maret 1997, K.H. Abdurrahman Arroisi menghembuskan nafas terakhir menghadap Allah SWT yang selalu dirindukannya, di Jakarta, di usia yang baru menginjak 53 tahun.

Advertisements
Image | This entry was posted in Islam, Sosial, Sosial Budaya and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to “Bapak…”

  1. Bustom says:

    Perkenalkan saya Bustom di jakarta. saya penggemar cerita silat karya Pak Arman. mohon info bagaimana cara memperoleh karya klasik beliau serial anak anak pendekar
    1. Anak Anak Pendekar
    2. Ajal Sang Penyebar Maut
    3. Jelita Penunggang Kuda Hitam
    4. Ksatria Bermata Sipit

    serial Pertarungan Para Ksatria “Ronggeng Sakit Hati” terimakasih

    salam

    Like

  2. esya says:

    saya esya,mohon info bagaimana untuk mendapatkan buku 30 kisah teladan.trima kasih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s