[I]rasionalitas Mudik

20130128_074814Oleh Binziad Kadafi

Secara terbatas saya setuju ada irasionalitas dari mudik lebaran, mudik natal, atau gegap gempita ritual pulang kampung lainnya. Tradisi ini dinilai sebagai repetisi tahunan aktivitas pemborosan.

Banyak ekonom yang bilang, sisi paling negatif dari mudik lebaran adalah demonstration effect (efek pamer) oleh para pemudik yang akhirnya menjurus ke konsumerisme.

Mudik digunakan sebagai ruang untuk memamerkan apa yang sudah diperoleh di kota dengan simbol-simbol materi, pakaian bermerek, hape terbaru, seberapa tebal angpau yang disebar, dan seberapa “hebat” cerita tentang kota dan capaian-capaiannya yang bisa diperdengarkan ke telinga handai taulan di kampung, yang kadang dipandang sebelah mata sebagai orang-orang “kampungan”.

Padahal, menurut banyak ekonom lagi, biaya untuk mudik seharusnya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih produktif. Aliran uang triliunan rupiah dari kota ke pelosok-pelosok desa seharusnya dimanfaatkan untuk modal usaha, modal kerja, dan aktivitas produksi lainnya. Bukannya untuk sekedar silaturahmi yang “sentimentil” sambil “pamer” dengan mengorbankan keselamatan tabungan, bahkan keselamatan nyawa.

Benar juga bahwa irasionalitas mudik jadi lebih kentara ketika kita memandangnya secara berjarak. Malah ada kecenderungan jarak pandang itu membuat kita sinis terhadapnya.

Sekali waktu, untuk menjaga objektivitas berpikir, jarak perlu diambil. Agar rasio dalam menilai sesuatu tidak larut dan dikalahkan oleh rasa. Tetapi jarak juga bisa menyalaharahkan kesimpulan. Karena jarak dalam memandang, menjauhkan kita dari realitas.

Untuk orang kota, atau orang kampung yang sudah mapan di kota, yang punya lebih banyak pilihan, paktek mudik sangat patut dipertanyakan. Buat apa capek-capek antri karcis bus atau kereta, buat apa bermacet-macet di pantura, buat apa menguras tabungan setahun, hanya untuk mudik?

Tapi mereka punya banyak pilihan, mendatangkan orangtua ke kota untuk bermain dengan cucu, mengirim tiket agar kakak, adik, ipar, mertua bisa menengok rumah cantik mereka di kota, atau tetap mudik meski tanpa embel-embel “lebaran” atau “natal” karena tidak sulit mengurus cuti di kantor di luar waktu “cuti bersama” atau di luar waktu “liburan bersama.”

Tabungan mereka pun cuma bergetar sedikit untuk menutup biaya semua itu.

Tetapi alhamdulillah, dari jarak yang sangat jauh ini saya tetap bisa membayangkan senyum sumringah Tini, orang yang membantu istri saya di rumah, ketika di kepalanya mulai terbayang terminal kampung rambutan yang panas, kumpulan orang yang berdesakan tidak hanya untuk antri beli karcis bus tetapi juga untuk masuk dalam bus, hitamnya aspal pantura, teriakan serak penjual kacang rebus, nopia, dan aqua, terminal Kuningan yang masih beberapa kilometer dari tol kanci Cirebon, ojek Mang Mus yang menunggu karena sudah dipesan beberapa hari sebelumnya, teguran kurang ajar si Jana, pemuda teman sekolahnya yang memilih menetap di kampung untuk menemani ibunya, lambaian tangan Eti dan Ita adiknya, dan rengkuhan Bapak dan Emak karena rindu sebenar-benarnya.

Dia cuma punya mudik lebaran untuk mendapatkan itu semua. Tidak setiap orang yang mempekerjakan dia atau orang lain seprofesinya memberi izin (atau “cuti” dalam istilah resmi) di luar lebaran. Tidak di semua “izin” mereka mendapatkan sangu bernama tunjangan hari raya.

Apakah dia boros? Setahu saya, ongkos bis kelas AC yang didapat dari istri saya pun, diirit dengan hanya naik kelas ekonomi. Apakah dia pamer? Setahu saya, dia cuma beli beberapa baju baru, itu pun karena bulan-bulan sebelumnya dia tidak pernah mengganti baju yang dipakai, berbeda dengan orang kota, atau orang kampung yang sudah mapan di kota, yang berkali-kali ke Sogo, Plaza Senayan, atau Pasaraya, jika ada sedikit saja info tentang banting harga. Gaji yang diterima pun dikirim bulanan ke keluarganya, untuk hal yang sangat produktif, investasi pendidikan bagi adik-adiknya.

Lalu kenapa dia mudik? Justru karena pertimbangan yang sangat ekonomis. Melepas kangen saat hari raya cukup rasanya mengganti kerinduan yang ditahan di bulan-bulan sebelumnya karena menyelamatkan tabungannya dari tarif telpon yang pastinya sangat memberatkan jika sering digunakan. Pakai telpon di tempat kerja? Sekali dua si empunya rumah barangkali mengijinkan, tetapi lebih dari itu, komentar sungut bisa didapat.

Apakah dia menyulitkan atau membahayakan diri? Beberapa lebaran dia memilih mudik setelah sholat ied, karena lalu lintas lebih lancar dan kendaraan umum lebih manusiawi untuk dinaiki.

Kita sering khilaf menyepelekan kemampuan orang-orang seperti Tini menyiasati hidup, termasuk keistimewaan mereka dalam berhitung soal masa depan. Mereka tidak bodoh, mereka juga tahu makna cita-cita.

Justru karena mudik mereka, orang-orang di sepanjang pantura lebih makmur hidupnya. Dagangan laris manis, lobang jalan ditutup dengan aspal atau hotmix, flyover dibangun, peluang ekonomi baru datang. Lebih jauh dari itu, dampak yang sama juga dirasakan orang-orang di pelosok yang lain.

Justru karena mudik mereka, orang kota jadi lebih peka “rasa”-nya untuk melengkapi “rasio”-nya. Mudik jadi momentum untuk mengingatkan para pemberi kerja tentang tanggungjawabnya. Izin, libur, tunjangan transport, tunjangan hari raya, dan mudah-mudahan gaji yang lebih layak, adalah tanggungjawab yang harus dipenuhi.

Justru karena mudik Tini, si Eti dan si Ita akan lebih giat belajar di ibtidaiyah, agar bisa terus ke tsanawiyah, lalu aliyah, supaya tidak bernasib sama dengan kakak mereka, yang cuma bisa mereka temui ketika mudik lebaran, karena tidak bekerja “kerah putih” sehingga sulit untuk sering berkunjung.

Memang ongkos mudik tetap ada, sehebat apa pun Tini berhemat. Kalau ongkos mudik itu dikirim ke Eti dan Ita, mungkin ada beberapa bulan tambahan di mana SPP mereka aman. Tapi ongkos itu patut dibayar rasanya, karena Eti dan Ita juga butuh bertemu kakaknya di samping bertemu gurunya di madrasah.

Jarak pandang cenderung membuat warna di mata kita hanya hitam dan putih. Ini bagus, ini tidak bagus. Sementara dalam realitas ada warna abu-abu, karena tidak semua hitam, dan karena tidak mudah memutihkan segalanya. Malah ada warna lain, merah, kuning, hijau, jingga, yang sangat kaya, yang sering tidak tertangkap oleh mata yang melihat secara berjarak. Tetapi jarak juga penting supaya perhatian kita tidak tersedot oleh warna jingga, hingga lupa bahwa putih itu artinya bersih.

Seattle, 15 Oktober 2007

Advertisements
This entry was posted in Sosial Budaya and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to [I]rasionalitas Mudik

  1. om ganteng says:

    keren mas artikelnya…

    salam CSR dari kami

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s